Minggu, 23 Oktober 2016

Apa Arti Kehidupan....???

MAKNA HIDUP

hidup..apa sih arti dari Kehidupan itu?
Selama ini kita menjalani hidup di dunia ini terkadang ada yg mengnyibukan dirinya dengan Kehidupan dunia/akhirat,akan tetapi atau mungkin sebagian dari kita belum mengetahui arti dari kehidupan itu tersendiri,nah pada kesempatan ini insya Allah saya akan mengulas dan menjelaskan Pengertian dari arti sebuah KEHIDUPAN & apa sih Tujuan dari Hidup itu Yg sesuai dengan AlQur'an & Hadist.
Pengertian Hidup menurut Al Qur'an
  Al Quran adalah pedoman bagi manusia untuk menemukan makna hidup yang sebenarnya. Berikut adalah beberapa pemahaman inti tentang makna hidup menurut Al Quran. Berbagai macam ajaran mengenai hakekat hidup dan tujuan hidup telah berkembang.
Masing-masing berbeda tentang pengertian dan tujuan hidup. Hanya Al Qur’an lah yang dapat menjelaskan arti dan tujuan hidup manusia secukupnya sehingga dapat dipahami oleh setiap individu yang membutuhkannya.

Kita hanya akan menyinggung arti hidup bagi manusia sendiri, kita tidak akan menyinggung arti hidup bagi benda atau wujud lain. Bahwa hidup pertama ialah di dunia kini dan hidup kedua berlaku di alam Akhirat. Kedua macam hidup itu berlaku dalam keadaan konkrit.

Banyak Ayat Suci yang menyatakan hidup dua kali di antaranya ayal 40/11.

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ
وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ
40/11.
Mereka berkata: wahai Tuhan kami, Engkau matikan kami dua kali dan Engkau hidupkan kami dua kali, dan kenallah kami pada dosa-dosa kami, Maka adakah garis hukum untuk keluar? Berbagai macam doktrin telah berkembang di muka Bumi, namun tidak satupun yang memberikan alasan kenapa adanya hidup kini; Masing-masingnya berbeda tentang pengertian dan tujuan hidup, hanya Alquran lah yang dapat menjelaskan secukupnya hingga dapat dipahami oleh setiap diri yang memerlukan.

Alquran memberikan ajaran tentang arti hidup bahwa orang hendaklah menghubungkan dirinya secara langsung kepada Allah dengan cara melakukan hukum-hukum tertulis dalam Alquran, dan menghubungkan dirinya pada masyarakat sesamanya dalam melaksanakan tugas amar makrur nahi mungkar. Hubungan vertikal dan horizontal begitu akan menimbulkan daya juang untuk mencapai kemakmuran bersama serta ketinggian martabat
dalam saluran rasa cinta bagaikan api yang tak kunjung padam. Artinya hidup seperti itulah satu-satunya yang mungkin dipakai untuk memperoleh keamanan dunia hingga seseorang bebas dari rasa takut, korupsi dan perkosaan.
RASULULLAH SAW BERSABDA, “… TIDAKLAH AKU TINGGAL DI DUNIA MELAINKAN SEPERTI MUSYAFIR YANG BERTEDUHBAWAH POHON DAN BERISTIRAHAT LALU MUSYAFIR TERSEBUT PERGI MENINGGALKANNYA.” [HR TIRMIDZI]


Tujuan hidup

Al Qur’an menjelaskan bahwa kehidupan kini bukanlah akan berlalu tanpa akibat tetapi berlangsung dengan catatan atas semua gerak zahir dan batin
yang menentukan nilai setiap indivisu untuk kehidupan konkrit nantinya di alam akhirat, dimana kehidupan terpisah antara yang
beriman dan yang kafir untuk selamanya.
Dan berlombalah kepada keampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya sama dengan luas planet-planet dan Bumi ini,
dijanjikan untuk para muttaqien. (QS 3/133)
Sungguh kami ciptakan manusia itu pada perwujudan yang lebih baik. Kemudian kami tempatkan dia kepada kerendahan yang lebih rendah.
Kecuali orang-orang beriman dan beramal shaleh, maka untuk mereka upah yang terhingga. QS 95/4-6)
Dengan keterangan singkat ini, jelaslah bahwa Al Qur’an bukan saja menjelaskan kenapa adanya hidup kini,
tetapi juga memberikan arti hidup serta tujuannya yang harus dicapai oleh setiap diri.
Keterangan Al Qur’an seperti demikian dapat diterima akal sehat dan memang hanyalah kitab suci itulah yang mungkin memberikan penjelasan demikian.


Pertama: Hidup Adalah Ibadah

Pada intinya, arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan kita dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puas
Read more

Jumat, 29 Juli 2016

KASTA PERTEMANAN

Dari kitab: Shuwarun Khowaathiru, karya Syaikh ‘Ali ath-Thonthowy
Ambillah sebuah pena dan kertas, lalu berusahalah menulis semua nama teman-temanmu, wahai remaja.
Kemudian, bagilah mereka ke dalam beberapa kelompok.; kamu akan mengetahui siapa dari mereka yang bukan teman sejatimu.
Ada juga dari mereka teman yang kamu temui tiap harinya, baik di dalam mobil ataupun di dalam bus, yang memberimu salam dan kamupun memberinya salam.
Ada juga dari mereka teman kerjamu yang dapat kamu lihat mejanya terletak tepat di samping mejamu.
Apabila kamu menginginkan keadaan yang dapat mengumpulkan pertemanan yang baik dan perbuatan yang dapat memperbaiki semua urusanmu, maka tulislah semua nama teman-temanmu.
Lalu lihatlah setiap orang dari mereka:
Apakah dia baik terhadap dirinya atau tidak?
Apakah dia tulus terhadap teman-temannya atau dia hanya mementingkan dirinya sendiri?
Apakah dia membuat siapa yang berada di dekatnya menjadi senang atau dia malah suka mengganggu?
Jika kamu telah melakukan hal tersebut, maka kamu akan mendapati teman-temanmu bermacam-macam:
  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang gemar sholat, berpuasa, dan dia memiliki sifat-sifat orang yang bertakwa dan orang yang sholeh. Namun, dia menjadikan semua itu sebagai tangga untuk meraih dunia dan sebagai jaring untuk meraih harta. Maka kamu akan mengetahui bahwa hakikatnya dia mendustakan apa yang dia tampakkan. Apabila dia berjanji denganmu, dia akan mengkhianatimu. Apabila dia bermuamalah denganmu, maka dia akan menipumu.
  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang baik pergaulannya dan dapat dipercaya. Akan tetapi dia tidak sholat, dia tidak berpuasa, dan dia pun tidak memiliki apa-apa dari agamanya melainkan hanya sekedar nama. Maka ketahuilah, ia hanya akan merusak agamamu!
  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang sholeh dan gemar beribadah. Ia juga teman bergaul yang dapat dipercaya. Namun dia adalah budak syahwat. Tidaklah dia berucap melainkan mengenai syahwat. Maka ia hanya akan mengganggumu dan membuang kecintaanmu sehingga padam tak berbekas.

  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang baik terhadap dirinya sendiri dan terpercaya dalam pergaulannya. Akan tetapi dia tidak bermanfaat untuk temannya dan dia tidak gemar menolong orang lain.

  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang suka membantu dan memudahkan urusan temannya. Namun dia tidak peduli pertolongan tersebut dia berikan dengan mengorbankan agamanya. Dia mengkhianati amanatnya lantaran hal tersebut. Sehingga dia akan menarik tanganmu dan membawamu bersamanya ke dalam neraka Jahannam.

  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang taat beragama, gemar menolong teman-temannya dan menjaga batasan-batasan Allah Ta’ala. Akan tetapi dia tidak mengetahui cara bergaul yang baik.

  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang bodoh dan suka berbuat jelek.

  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang memuliakanmu nasabmu dan pekerjaanmu. Maka dia akan menjadikanmu perhiasan di dalam hidupnya, atau alat untuk masa depannya. Kamu di sisinya tidak lain hanyalah sebuah perhiasan dinding.

  • Kamu mengenalnya sebagai teman yang sholeh, terpercaya dalam pergaulannya, jujur dalam berkata, bermanfaat untuk temannya, dan membahagiakan orang di sekitarnya. Maka pilihlah ia!

Ringkasnya, teman itu terbagi menjadi lima;

Ada teman seperti udara, kita tidak pernah merasa cukup bersamanya dan selalu membutuhkannya.
Ada teman seperti  makanan, kita tidak dapat hidup dengannya. Terkadang rasanya enak namun adakalanya sulit dicerna.
Ada teman seperti obat yang pahit dan tidak enak, namun kita harus bersamanya dalam beberapa keadaan.
Ada teman seperti khamr (minuman keras), lezat meminumnya namun dia merusak kesehatan dan kehormatan.
Dan ada teman seperti penyakit.


Adapun teman yang seperti udara, maka dia bermanfaat bagi agama dan duniamu.
Adapun teman yang seperti makanan, maka dia bermanfaat bagi agama dan duniamu. Namun terkadang dia menyakiti hatimu dengan kekasarannya dan kejelekan tingkah lakunya.
Adapun teman yang seperti obat, maka kamu membutuhkannya dan dia bermanfaat bagimu. Meskipun begitu, kamu tidak meridhoi agamanya dan pertemananmu dengannya membuatmu merasa tidak nyaman.
Adapun teman yang seperti khamr, maka dia memberikanmu berbagai kenikmatan dan semua hal yang kamu sukai. Akan tetapi, dia merusak akhlakmu dan membinasakan akhiratmu.
Adapun teman yang seperti penyakit, maka dia tidak memberikan secuil manfaat pun darimu baik untuk dunia maupun agamamu. Dia tidak membuatmu senang tatkala bergaul bersamanya maupun berbicara dengannya.
Wajib bagimu untuk menjadikan agama sebagai tolak ukur dan ridho Allah sebagai timbangan.


Maka siapapun yang bermanfaat untuk agamamu, berpegang teguhlah dengannya, melainkan jika dia bukan termasuk orang yang berteman denganmu.
Dan siapapun yang tidak membuatmu senang, maka jauhilah dia, kecuali jika kamu terpaksa berteman dengannya. Karena ini perkara yang darurat, maka bertemanlah dengannya tanpa melampaui batas.
Adapun teman yang tidak membahayakan agamamu dan juga tidak memberikan manfaat untuk duniamu, namun dia cerdas dan menyenangkan, maka cukuplah untukmu menikmati kecerdasannya. Jangan sampai pertemananmu bersamanya mencegahmu dari kewajiban dan mengajakmu berjalan bersamanya menuju kelalaian dan dosa.
Read more

Minggu, 05 Juni 2016

Puasamu Akan Sia-sia

Puasa Bisa Jadi Tidak Bernilai Gara-Gara Tidak Berjilbab

☝🏼Membuka aurat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ “

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid). Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan bukanlah dengan menahan lapar dan dahaga saja. Namun puasa juga hendaknya dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Yang termasuk maksiat adalah buka-bukaan aurat dan meninggalkan shalat. Ini adalah maksiat.

☝🏼Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan wejangan, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” Itulah sejelek-jelek puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga saja ketika berpuasa, sedangkan maksiat masih terus jalan, masih buka-buka aurat dan enggan berjilbab. Kesadaran untuk berhenti dari maksiat tak kunjung datang. Ucapan sebagian salaf berikut patut jadi renungan,

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ "
Tingkatan puasa yang paling rendah adalah hanya meninggalkan minum dan makan saja.

 Sumber: https://rumaysho.com/1164-menutup-aurat-hanya-musiman.html


Read more

Senin, 30 Mei 2016

Jalan Penegak Kebenaran

Jalan yang membuat Nuh ‘alaihissalam dihina oleh kebanyakan kaumnya, bahkan dari keluarga sendiri. Dianggap gila ketika ia merakit kapal di atas bukit, padahal itu adalah tuntunan wahyu. Hingga tidak ada yang mau beriman kecuali hanya sedikit sekali.
Jalan yang membuat Ibrahim‘alaihissalam menerima fitnah dari kaumnya. Hampir-hampir ia dibakar hidup-hidup. Tak hanya itu, ia harus meninggalkan buah hatinya yang telah lama dinanti, Ismail ‘alaihissalam, di tempat yang kering lagi tandus. Leher Ismail pun hampir tertebas oleh pedang ayahnya sendiri, demi ketaatan pada petunjuk ilahi sebagai pengujia iman mereka.
Jalan yang membuat Yusuf ‘alaihissalam dimasukkan ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri. Lalu dijual sebagai budak. Difitnah hendak memperkosa sang Ratu kerajaan. Dipenjara dalam waktu yang sangat lama.Begitu pula jalan yang membuat Ayyub ‘alaihissalammenderita penyakit berat di sekujur tubuhnya. Bahkan istrinya pun meninggalkannya dalam kesendirian itu.
Jalan yang membuat Syu’aib ‘alaihissalam terancam diusir kaumnya. Begitupula Musa ‘alaihissalam yang terusir dari negerinya. Berhadapan dengan Fir’aun dan penyihir-penyihirnya. Jalan yang membuat Yunus ‘alaihissalam ditolak oleh kaumnya. Bahkan ketika ia hendak meninggalkan kaumnya, justru akhirnya ia masuk ke perut ikan. Begitupula Isa‘alaihissalam yang dikejar dengan ancaman akan dibunuh.


Lalu jalan itu pula yang membuat Muhammad SAW disebut orang gila, dukun, dan sebutan-sebutan penghinaan lainnya. Dilempar kotoran ketika sedang shalat hingga dilempar batu oleh penduduk Thaif. Bahkan tak sedikit dari golongan kerabat yang membencinya.
Begitulah jalan penegak kebenaran. Jalan mereka tetap lurus meski kenyataan tak selalu mulus. Itulah yang membuat mereka semakin mulia di sisi-Nya. Jalan para Nabi, mengangkat mereka yang meniti jalan itu menjadi Khairu Ummah. Allah SWT. berfirman:
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imran: 110)
Jalan para Nabi yang kini dianjurkan kepada seluruh umat Nabi Muhammad saw. Allah SWT. berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran: 104)
Maka tak heran jika kini penyeru kebenaran itu difitnah, diusir, dan diuji dengan tantangan-tantangan yang berat. Dicurigai serta menerima tuduhan-tuduhan yang menjatuhkan. Hanya mereka yang tidak takut karena dicaci, tidak mundur karena diancam, yang dijanjikan kemuliaan di sisi-Nya. Itulah jalan Dakwah.Wallahu a’lam
Read more

Jumat, 20 Mei 2016

Nikmat Tuhanmu yang Manakah Kamu Dustakan...?

   Jika kita tidak mau bersyukur, maka janganlah tinggal di bumi-Nya. Kemanakah kita pergi? Adakah tempat yang bukan milik Allah? Tentu saja tidak. Bahkan, luar angkasa beserta galaksinya adalah milik Allah.



Allah berulang-ulang kali menegur kita dengan kalimat ‘Nikmat Tuhanmu yang Manakah Kamu Dustakan?’. Betapa nikmat yang telah Allah berikan begitu besar. Jikalau di hitung, niscaya tidak akan sanggup menghitungnya.
Karena begitu banyak nikmat-Nya yang bertebaran di muka bumi ini. Masih pantaskah kita sombong dengan tidak mensyukuri nikmatnya? Sungguh, tak pantaslah kita melakukan hal itu.
Kita hanyalah setitik debu di atas samudera. Sungguh, amat kecil diri ini di bumi-Nya. Udara yang sejuk, rembulan yang bersinar indah, bintang gemintang yang gemerlap cantiknya. Bukankah itu semua ciptaan-Nya yang harus di syukuri?
Sungguh indah dunia ini. Jika kita melihat dengan kaca mata iman. Planet-planet yang bertebaran di luar angkasa begitu teratur. Mereka tidak saling menabrak satu sama lain. Bahkan, mereka bertasbih memuji Tuhannya. Sedangkan kita? Sibuk dengan urusan dunia.
Allah ciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita. Tempat yang dapat melindungi kita dari sengatan matahari. Tempat di mana manusia bisa tertidur dengan lelap. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah kamu dustakan?
Berulang-ulang kali Dia bertanya. Bahkan, dalam surat Ar-Rahman kalimat itu di ulang sebanyak 31 kali. Ini teguran untuk kita. Untuk orang yang lalai dan mengabaikan nikmat-Nya. Dan enggan bersyukur pada-Nya. Tuhan semesta alam.
Jika kita tidak mau bersyukur, maka janganlah tinggal di bumi-Nya. Kemanakah kita pergi? Adakah tempat yang bukan milik Allah? Tentu saja tidak. Bahkan, luar angkasa beserta galaksinya adalah milik Allah.
Seharusnya kita bersyukur karena tinggal di bumi-Nya. Dan menikmati kebesaran ciptaan-Nya. Syukur itu akan mendatangkan kebahagiaan. Maka pandai-pandailah kita mensyukuri segala nikmat yang telah di berikan-Nya. Agar hidup kita bahagia dan berkah.
Nikmat adalah Ujian


Bahagia itu dekat. Ya, dekat. Bahkan sangat dekat. Di manakah dia? Dia berada di hati orang-orang yang bersyukur. Mereka yang bersyukur akan bahagia. Sebaliknya, dia yang kufur akan sengsara.
Begitulah kehidupan. Ada senang juga ada sedih. Ada kaya ada miskin. Ada siang juga ada malam. Semua diciptakan secara berpasang-pasangan. Nikmat adalah ujian. Ujian di mana kita sering terbuai dan lalai atas anugerah Allah.
Mungkin, jika kita di beri ujian berupa cobaan tentu kita akan ingat dengan Allah. Memohon dengan segala kerendahan hati. Tapi di saat ujian itu berupa nikmat justru kita lupa. Lupa siapa yang telah memberinya.
Ujian yang paling berat bukanlah di berikan bencana. Tapi di berikan kesenangan dan kenikmatan. Baik berupa pangkat, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya. Itu semua adalah ujian.

Benarkah nikmat adalah ujian?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin bertanya, apakah hari ini kita masih bisa bernapas? Jika ya, berarti kita masih di beri kesempatan hidup. Sudahkah kita mensyukurinya?
Syukur dalam bentuk apa? Cara paling mudah untuk bersyukur adalah dengan mengucap hamdalah. Ini syukur dalam bentuk lisan. Ini saja kita sering lupa. Bagaimana dengan syukur secara perbuatan?
Kesenangan atau kenikmatan adalah ujian yang membuat manusia jauh dari Allah. Bila sudah jauh dari-Nya, nikmat pun juga menjauh bahkan akan berkurang. Inilah ujian untuk hamba-hambanya. Jika di uji dengan kesenangan, mereka yang beriman akan mengingat Allah dan bersyukur pada-Nya. Sebaliknya, mereka yang tidak beriman akan kufur terhadap nikmat-Nya.
Janganlah kita menjadi pribadi yang kufur nikmat. Sebab itu akan menjauhkan dari rahmat Allah. Bila rahmat atau kasih sayangnya sudah jauh, maka kebahahiaan tidak akan menghampiri kita. Justru, kesengsaraan dan murka-Nya yang akan datang karena telah kufur akan nikmat-Nya. Nerakalah tempat kita selanjutnya.
Tentunya hal ini tidak kita harapkan bukan?
Maka, jadilah hamba yang pandai bersyukur. Agar rahmat atau kasih sayang-Nya selalu dekat. Dan kita dapat menjadi hamba yang di sayang-Nya baik di dunia dan akhirat....
Read more

Sabtu, 30 April 2016

Kenapa Harus Shalat....?



Shalat sangat penting bagi setiap Muslim. Shalat merupakan tiang agama. Dengan shalat, menjadi pembeda antara kita dengan non Muslim.
Terkadang terlintas dalam benak kita, kenapa kita harus shalat? Apa yang akan kita dapatkan dari shalat? Padahal, shalat hanya gerakan-gerakan sederhana, yang kita lakukan pada waktu-waktu bersantai. Sehingga waktu istirahat kita terganggu akibat diisi dengan shalat?
Jika hal itu masih ada dalam benak pikiran Anda, maka segera hapuslah. Sebab, shalat bukan hanya perintah dari Allah SWT semata. Shalat memiliki keistimewaan tersendiri bagi kita sebagai seorang Muslim. Dan shalat memiliki urgensi tersendiri bagi kita. Apakah itu?
Shalat itu tiang agama. Siapa yang menunaikan shalat, berarti ia menegakkan agama. Dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti ia meruntuhkan agama.
Bila kita memperhatikan sebuah bangunan, tiang berfungsi sebagai penyangga. Apa jadinya bila bangunan berdiri tanpa penyangga? Pasti ambruk, kan? Apa artinya pula bangunan dengan tiang penyangga yang rapuh? Lama-lama ambruk juga, kan?
Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah ﷺ bersabda, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat,” (HR. At-Tirmidzi).
Shalat juga pembeda keimanan dengan kekufuran. At-Tirmidzi kembali meriwayatkan dari Buraidah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ikatan janji antara kami (umat Islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkan shalat, berarti ia kafir.”
Adapun Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
Selain itu, shalat merupakan amalan pokok yang akan dihisab pertama kali. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan yang pertama kali dihisab pada seseorang nanti di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya bagus, maka berbahagia dan beruntunglah dia. Namun, jika shalatnya rusak, maka menyesal dan merugilah ia…”
Sebuah perintah ketaatan dari Allah SWT akan menjadi beban bagi yang kurang berilmu. Semakin bertambah ilmunya, beban itu berubah menjadi kewajiban. Kita mengerjakan shalat, layaknya bekerja kepada majikan. Kita khawatir tidak mendapatkan upah dan mendapatkan sanksi bila tidak mengerjakannya. Kita mengerjakannya karena berharap untuk memasuki surga dan takut masuk ke dalam neraka.
Semakin lama, kewajiban itu berubah menjadi kebutuhan. Kita mengerjakan shalat, karena kita membutuhkannya. Kalau belum mengerjakan, serasa ada yang kurang. Dengan shalat, hati menjadi tenang, jiwa menjadi riang dan segenap permasalahan menemukan jalan keluar. Kita pun merasakan bahwa kitalah yang membutuhkan shalat. Andai tiada shalat, tiada kesempatan berkomunikasi dengan Allah SWT, betapa berat menghadapi aneka problematika hidup.
Lebih nikmat lagi, bila mengerjakannya karena rasa syukur dan cinta kepada Allah SWT. Dan kita merindukan saat istimewa itu. Berkomunikasi dengan Allah, sebagaimana bercengkerama dengan kekasih kita. Rasulullah ﷺ sangat mendalam cintanya kepada Allah. Hingga pernah dalam menunaikan shalat, kakinya menjadi bengkak. Mengapa demikian? Karena beliau berlama-lama dan menemukan kenikmatan luar biasa dalam shalatnya.
Shalat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Selain pembeda antara keimanan dan kekafiran, ia merupakan amalan yang pertama kali dihisab, juga dapat menjadi sarana untuk mengahadapi segala problematika hidup. Hudzaifah berkata, “Kebiasaan nabi ﷺ jika menghadapi kesulitan adalah segera melakukan shalat,” (HR. Ahmad dan Abu Daud). []


Referensi: Orang Tua Hebat Melahirkan Anak Hebat/Karya: Fadlan al-Ikhwani/Penerbit: Al-Qudwah Publishing
Read more

Senin, 07 Maret 2016

SURAT UMAR BIN KHATTAB KEPADA SUNGAI NIL.

Dahulu Mesir ditaklukkan pasukan muslim, dan Amru bin Ash diangkat sebagai Gubernur Mesir. Suatu saat ia didatangi sekelompok penduduk sekitar sungai Nil karena sungai itu sedang kering. Mereka berkata, "Wahai Gubernur, saat ini sungai Nil sedang kering. Kami biasa melakukan suatu tradisi, dan sungai Nil itu tidak akan mengalirkan air kecuali jika kami memenuhi tradisi tersebut."        
          Waktu Amr bin Ash menanyakan tentang tradisi tersebut, mereka menjelaskan, bahwa setelah berlalu sebelas hari dari bulan tersebut, mereka mencari seorang gadis untuk dikurbankan. Mereka meminta kerelaan orang tuanya, kemudian gadis ini didandani dan diberi perhiasan yang paling indah, dan akhirnya dilemparkan ke sungai Nil sebagai persembahan. Jika semua itu dilakukan, biasanya Nil akan mengalirkan airnya lagi.
Tentu saja Amr bin Ash melarang dilanjutkannya tradisi yang seperti itu, karena Islam menghancurkan tradisi-tradisi jahiliah yang merusak. Kembalilah penduduk sekitar Nil ini ke rumahnya masing-masing dan sungai itu tetap dalam keadaan kering, hingga hampir saja mereka memutuskan untuk pindah.
Melihat keadaan yang memprihatinkan masyarakat itu, Amru bin Ash mengirim surat pada Umar bin Khatthab dan menceritakan keadaan tersebut. Umar membalas surat Amr bin Ash dan membenarkan tindakan yang diambilnya untuk menghentikan tradisi kuno tsb. Selain itu Umar juga menyelipkan suatu surat lain, yang ditujukan untuk sungai Nil. Amr diminta untuk  melemparkan  surat tersebut ke dalam sungai Nil yang sedang kering. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut :       
            "Dari hamba Allah, Umar bin Khaththab, Amirul Mukminin, kepada hamba Allah Nil di Mesir, Amma Ba'du. Jika engkau mengalir dari dirimu sendiri, maka janganlah kamu mengalir. Namun jika Allah yang mengalirkan, maka mintalah kepada Dzat Yang Maha Kuat untuk mengalirkanmu."    
            Amr melemparkan surat tersebut ke sungai Nil pada malam harinya, sehari sebelum peringatan hari raya salib. Pada pagi harinya, sungai Nil telah terisi air sedalam enam belas hasta hanya dalam semalam, dan mengalir terus hingga sekarang. Sungguh dengan ijin Allah, tradisi kuno yang berjalan ratusan bahkan ribuan tahun telah dihancurkan oleh secarik surat Umar bin Khatthab.

SubhanAllah Alhamdulillah walaa illa ha'ilallah wallahuakhbar.
Allahumma solli 'ala sayyidina Muhammad wa'ala ali sayyidina Muhammad.

Dikutip dari kisah sahabat Rasulullah ﷺ
oleh akhukum fillah Arlocindhe.
Read more