Senin, 30 Mei 2016

Jalan Penegak Kebenaran

Jalan yang membuat Nuh ‘alaihissalam dihina oleh kebanyakan kaumnya, bahkan dari keluarga sendiri. Dianggap gila ketika ia merakit kapal di atas bukit, padahal itu adalah tuntunan wahyu. Hingga tidak ada yang mau beriman kecuali hanya sedikit sekali.
Jalan yang membuat Ibrahim‘alaihissalam menerima fitnah dari kaumnya. Hampir-hampir ia dibakar hidup-hidup. Tak hanya itu, ia harus meninggalkan buah hatinya yang telah lama dinanti, Ismail ‘alaihissalam, di tempat yang kering lagi tandus. Leher Ismail pun hampir tertebas oleh pedang ayahnya sendiri, demi ketaatan pada petunjuk ilahi sebagai pengujia iman mereka.
Jalan yang membuat Yusuf ‘alaihissalam dimasukkan ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri. Lalu dijual sebagai budak. Difitnah hendak memperkosa sang Ratu kerajaan. Dipenjara dalam waktu yang sangat lama.Begitu pula jalan yang membuat Ayyub ‘alaihissalammenderita penyakit berat di sekujur tubuhnya. Bahkan istrinya pun meninggalkannya dalam kesendirian itu.
Jalan yang membuat Syu’aib ‘alaihissalam terancam diusir kaumnya. Begitupula Musa ‘alaihissalam yang terusir dari negerinya. Berhadapan dengan Fir’aun dan penyihir-penyihirnya. Jalan yang membuat Yunus ‘alaihissalam ditolak oleh kaumnya. Bahkan ketika ia hendak meninggalkan kaumnya, justru akhirnya ia masuk ke perut ikan. Begitupula Isa‘alaihissalam yang dikejar dengan ancaman akan dibunuh.


Lalu jalan itu pula yang membuat Muhammad SAW disebut orang gila, dukun, dan sebutan-sebutan penghinaan lainnya. Dilempar kotoran ketika sedang shalat hingga dilempar batu oleh penduduk Thaif. Bahkan tak sedikit dari golongan kerabat yang membencinya.
Begitulah jalan penegak kebenaran. Jalan mereka tetap lurus meski kenyataan tak selalu mulus. Itulah yang membuat mereka semakin mulia di sisi-Nya. Jalan para Nabi, mengangkat mereka yang meniti jalan itu menjadi Khairu Ummah. Allah SWT. berfirman:
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imran: 110)
Jalan para Nabi yang kini dianjurkan kepada seluruh umat Nabi Muhammad saw. Allah SWT. berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran: 104)
Maka tak heran jika kini penyeru kebenaran itu difitnah, diusir, dan diuji dengan tantangan-tantangan yang berat. Dicurigai serta menerima tuduhan-tuduhan yang menjatuhkan. Hanya mereka yang tidak takut karena dicaci, tidak mundur karena diancam, yang dijanjikan kemuliaan di sisi-Nya. Itulah jalan Dakwah.Wallahu a’lam
Read more

Jumat, 20 Mei 2016

Nikmat Tuhanmu yang Manakah Kamu Dustakan...?

   Jika kita tidak mau bersyukur, maka janganlah tinggal di bumi-Nya. Kemanakah kita pergi? Adakah tempat yang bukan milik Allah? Tentu saja tidak. Bahkan, luar angkasa beserta galaksinya adalah milik Allah.



Allah berulang-ulang kali menegur kita dengan kalimat ‘Nikmat Tuhanmu yang Manakah Kamu Dustakan?’. Betapa nikmat yang telah Allah berikan begitu besar. Jikalau di hitung, niscaya tidak akan sanggup menghitungnya.
Karena begitu banyak nikmat-Nya yang bertebaran di muka bumi ini. Masih pantaskah kita sombong dengan tidak mensyukuri nikmatnya? Sungguh, tak pantaslah kita melakukan hal itu.
Kita hanyalah setitik debu di atas samudera. Sungguh, amat kecil diri ini di bumi-Nya. Udara yang sejuk, rembulan yang bersinar indah, bintang gemintang yang gemerlap cantiknya. Bukankah itu semua ciptaan-Nya yang harus di syukuri?
Sungguh indah dunia ini. Jika kita melihat dengan kaca mata iman. Planet-planet yang bertebaran di luar angkasa begitu teratur. Mereka tidak saling menabrak satu sama lain. Bahkan, mereka bertasbih memuji Tuhannya. Sedangkan kita? Sibuk dengan urusan dunia.
Allah ciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita. Tempat yang dapat melindungi kita dari sengatan matahari. Tempat di mana manusia bisa tertidur dengan lelap. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah kamu dustakan?
Berulang-ulang kali Dia bertanya. Bahkan, dalam surat Ar-Rahman kalimat itu di ulang sebanyak 31 kali. Ini teguran untuk kita. Untuk orang yang lalai dan mengabaikan nikmat-Nya. Dan enggan bersyukur pada-Nya. Tuhan semesta alam.
Jika kita tidak mau bersyukur, maka janganlah tinggal di bumi-Nya. Kemanakah kita pergi? Adakah tempat yang bukan milik Allah? Tentu saja tidak. Bahkan, luar angkasa beserta galaksinya adalah milik Allah.
Seharusnya kita bersyukur karena tinggal di bumi-Nya. Dan menikmati kebesaran ciptaan-Nya. Syukur itu akan mendatangkan kebahagiaan. Maka pandai-pandailah kita mensyukuri segala nikmat yang telah di berikan-Nya. Agar hidup kita bahagia dan berkah.
Nikmat adalah Ujian


Bahagia itu dekat. Ya, dekat. Bahkan sangat dekat. Di manakah dia? Dia berada di hati orang-orang yang bersyukur. Mereka yang bersyukur akan bahagia. Sebaliknya, dia yang kufur akan sengsara.
Begitulah kehidupan. Ada senang juga ada sedih. Ada kaya ada miskin. Ada siang juga ada malam. Semua diciptakan secara berpasang-pasangan. Nikmat adalah ujian. Ujian di mana kita sering terbuai dan lalai atas anugerah Allah.
Mungkin, jika kita di beri ujian berupa cobaan tentu kita akan ingat dengan Allah. Memohon dengan segala kerendahan hati. Tapi di saat ujian itu berupa nikmat justru kita lupa. Lupa siapa yang telah memberinya.
Ujian yang paling berat bukanlah di berikan bencana. Tapi di berikan kesenangan dan kenikmatan. Baik berupa pangkat, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya. Itu semua adalah ujian.

Benarkah nikmat adalah ujian?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin bertanya, apakah hari ini kita masih bisa bernapas? Jika ya, berarti kita masih di beri kesempatan hidup. Sudahkah kita mensyukurinya?
Syukur dalam bentuk apa? Cara paling mudah untuk bersyukur adalah dengan mengucap hamdalah. Ini syukur dalam bentuk lisan. Ini saja kita sering lupa. Bagaimana dengan syukur secara perbuatan?
Kesenangan atau kenikmatan adalah ujian yang membuat manusia jauh dari Allah. Bila sudah jauh dari-Nya, nikmat pun juga menjauh bahkan akan berkurang. Inilah ujian untuk hamba-hambanya. Jika di uji dengan kesenangan, mereka yang beriman akan mengingat Allah dan bersyukur pada-Nya. Sebaliknya, mereka yang tidak beriman akan kufur terhadap nikmat-Nya.
Janganlah kita menjadi pribadi yang kufur nikmat. Sebab itu akan menjauhkan dari rahmat Allah. Bila rahmat atau kasih sayangnya sudah jauh, maka kebahahiaan tidak akan menghampiri kita. Justru, kesengsaraan dan murka-Nya yang akan datang karena telah kufur akan nikmat-Nya. Nerakalah tempat kita selanjutnya.
Tentunya hal ini tidak kita harapkan bukan?
Maka, jadilah hamba yang pandai bersyukur. Agar rahmat atau kasih sayang-Nya selalu dekat. Dan kita dapat menjadi hamba yang di sayang-Nya baik di dunia dan akhirat....
Read more