Kamis, 29 Januari 2015

Apa Yang Kita Cari Dalam Hidup Ini....?

Kita hidup di gunung merindukan​ pantai...
Kita hidup di pantai merindukan​ gunung...

Kalau kemarau kita tanya kapan hujan?
Di musim hujan kita tanya kapan kemarau?

Diam di rumah pengennya pergi...
Setelah pergi pengennya pulang ke rumah...

Waktu tenang cari keramaian...
Waktu ramai cari ketenangan...​

Ketika masih bujang mengeluh kepengen nikah, Sudah berkeluarga, mengeluh belum punya anak, setelah punya anak mengeluh biaya hidup dan pendidikan...

Ternyata SESUATUMU tampak indah karena belum kita miliki...

Kapankah kebahagiaa​n akan didapatkan​ kalau kita hanya selalu memikirkan​ apa yang belum ada, tapi mengabaikan​ apa yang sudah kita miliki...

Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR...
dengan rahmat yang sudah kita miliki...

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini??
Menutupi telapak tangan saja sulit...

Tapi kalo daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutupla​h “BUMI" dengan Daun,

Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan dimana-mana
Bumi inipun akan tampak buruk...

Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil...

Jangan menutupi hati kita, dengan sebuah pikiran buruk, walau cuma seujung kuku...

SYUKURI apa yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk meMULIAkanNYA...

Karena hidup adalah :
WAKTU yang dipinjamkan,
dan Harta adalah Amanah yang dipercayakan...
yang semua itu akan di mintai pertanggung jawaban,

Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki...
Bersyukurlah atas keluarga yang kita miliki...
Bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki...
Bersyukur dan selalu bersyukur di dalam segala hal. Bersegeralah berlomba dalam kebaikan di mulai dari sekarang.

Selamat meraih kebaikan di hari ini.

 Ditulis oleh Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA حفظه الله تعالى

 
Read more

Selasa, 27 Januari 2015

Cinta Karena Allah

Salah satu perintah dalam Islam adalah menyatakan cinta karena Allah. Namun tentu saja cinta bukan dinyatakan pada lawan jenis yang tidak halal karena adanya godaan besar di balik itu.
Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ
Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 421/542, shahih kata Syaikh Al Albani)
Dari Mujahid berkata,
لقيني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأخذ بمنكبي من ورائي. قال: أما إني أحبّك. قال : أحبك الله الذي أحببتني له. فقال : لولا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” “إذا أحب الرجل الرجل فليخبره أنه أحبه”. ما أخبرتك. قال: ثم أخذ يعرض علي الخطبة. قال: أما إن عندنا جارية، أما إنها عوراء
“Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata,
أما إني أحبّك
“Sungguh saya mencintaimu.”
Dia lalu berkata,
أحبك الله الذي أحببتني له
“Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu.”
Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia   lalu   menyodorkan   sebuah lamaran kepadaku sambil berkata,
“Kami memiliki seorang budak  perempuan  dia  buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod 422/543. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Inilah ajaran Islam yang mengajarkan untuk saling mencintai. Ketika kita mencintai saudara kita karena Allah, maka ungkapkanlah cinta tersebut dengan mengatakan, “Inni uhibbuk” atau “Inni uhibbuk fillah”. Lalu ketika saudaranya mendengar, maka balaslah dengan mengucapkan “ahabbakallahu alladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu). Dan ini menunjukkan hendaknya cinta dan benci pada orang lain dibangun karena Allah, bukan karena maksud dunia semata.
Ibnu ‘Abbas berkata,
من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك. وقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا.
“Siapa yang mencintai dan benci karena Allah, berteman dan memusuhi karena Allah, sesungguhnya pertolongan Allah itu diperoleh dengan demikian itu. Seorang hamba tidak adakn bisa merasakan kenikmatan iman walaupun banyak melakukan shalat dan puasa sampai dirinya berbuat demikian itu. Sungguh, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan karena kepentingan dunia. Persahabat seperti itu tidaklah bermanfaat bagi mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir disebutkan dalam Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi)
Al Hasan Al Bashri berkata,
إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة
“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).
Semoga kita bisa saling mencintai karena Allah dan mendapatkan pertolongan-Nya.

Disusun selesai ‘Ashar, di Pesantren Darush Sholihin, 6 Rabi’uts Tsani 1435 H
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Read more

Senin, 26 Januari 2015

Alangkah Indahnya Islam

Tema keindahan Islam sangat luas, panjang lebar sulit untuk diringkas dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita ketahui adalah firman Allah.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)


Juga firman-Nya.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima.” (Qs. Ali Imran: 85)

Jadi, agama yang dibawa oleh para nabi dan menjadi sebab Allah mengutus para rasul adalah dienul Islam. Allah mengutus para rasul untuk mengajak agar orang kembali kepada Allah. Para rasul datang untuk memperkenalkan Allah. Barang siapa menaati mereka, maka para rasul akan memberikan kabar gembira kepadanya. Adapun orang yang menentangnya, maka para rasul akan menjadi peringatan baginya. Para rasul diperintahkan untuk menegakkan agama di dunia ini.

Allah berfirman.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu ‘Tegakkan agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.’ Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 13)

Islam adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang dibawa Nabi merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima agama selainnya. Jadi agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan diridhaiNya.

Allah berfirman.

يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 42)

Sebagian ahli ilmu mengatakan, Sebelumnya aku mengira bahwa orang yang bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan orang yang meridhoi Allah, niscaya Allah akan meridhoinya. Dan barang siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintainya. Setelah aku membaca Kitabullah, aku baru mengetahui bahwa kecintaan Allah mendahului kecintaan hamba pada-Nya dengan dasar ayat,

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Dia mencintai mereka dan mereka mencitai-Nya.” (Qs. Al Maaidah: 54)

Ridha Allah kepada hambaNya mendahului ridha hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,

رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ

“Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoi-Nya.” (Qs. At-Taubah: 100)

Dan aku mengetahui bahwa penerimaan taubat dari Allah, mendahului taubat seorang hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ

“Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs. At-Taubah: 118)

Demikianlah, bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan tidak beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Karena itu, agama yang diterima Allah adalah Islam. Umat Islam harus menjadikannya sebagai kendaraan. Persatuan harus bertumpu pada tauhid dan syahadatain. Islam agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri. Allah menjamin penjagaan terhadapnya.

Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)

Sedangkan agama selainnya, jaminan ada di tanga
Read more

Minggu, 25 Januari 2015

Bila Hati Bercahaya

Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses
hidup karena telah berhasil meraih segalanya :
harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan
yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini?
Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya
nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.
Di sebuah harian pernah diberitakan tentang
penemuan baru berupa teropong yang diberi nama
telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil
ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi.
Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah
suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di
dalamnya terdapat planet-planet yang membuat
takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-
sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan
salah satu planet yang sangat kecil, yang berada
dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita.
Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya
hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya
dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi
tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.
Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah
berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di
bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses
– suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja.
Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan
pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat
lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala
berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa
semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata,
sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun
serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang
kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing
hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun
yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia
sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla.
Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang
dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa
izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah!
Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia
yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.
Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan
Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai
jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah
galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun
alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada
kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia
ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk
dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu
hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa
kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini.
Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan
hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya
segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-
kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya
di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka
adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya
akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan
sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan
terus menerus terjadi.
Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa
dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah,
susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati,
direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah,
kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-
kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik
kejadiannya, maka letihlah hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah.
Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia
tidak akan ada satu pun yang merugikan kita.
Artinya, memang kita harus terus menerus
meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah
Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan
sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita
harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW
pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud
terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan
barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di
tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."
Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak
mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan
kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah
daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-
orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun
yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati
merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah
apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam
kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan
yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan.
Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak
menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti
daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad,
Mauqufan)
Andaikata kita merasa lebih tentram dengan
sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum
zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita,
seharusnya kita lebih merasa tentram dengan
jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita
miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada
izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat
yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita
tidak sampai merasa tentram dengan jaminan
mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak
akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.
Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun
yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka
dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak
dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan
segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan
seseorang dengan adanya dunia di genggamannya.
Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang
karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak
menghormati seseorang karena ia tidak memiliki
apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena
kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan
seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini
berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya
akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian? Karena, hati kita akan
dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu
mudah membeda-bedakan teman atau seseorang
yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah
mendatangkan seseorang yang sederhana itu
sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan
pertolongan-Nya kepada kita.
Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem
kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika
hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga
barang tersebut di supermarket lebih murah
ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang
berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga
kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga
serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung
jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita
mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan
membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan
dengan harga yang ditawarkannya daripada
membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan
bagi kita justru ketika kita bisa memberikan
sesuatu kepada orang lain.
Lain halnya dengan keuntungan diuniawi.
Keuntungan semacam ini baru terasa ketika
mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan
arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa
memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang
lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya
juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali
bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia
dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan
tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan
kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati
keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas
menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain.
Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak,
itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita
menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain
pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat
luar biasa.
Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya
serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan
atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah
heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih
karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan
dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari
orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua
itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan
banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita
buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin,
dengan menghargai, memuliakan, dan membantu
orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud.
Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang
terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan
dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya
bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur
dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-
kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup,
menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga
jadilah ia ahli zuhud.
"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu", tulis
Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam,
"tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan,
sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula.
Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala
sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan
memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat
kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa,
siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya
dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas
cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada
cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An
Nuur [24] : 35).

Sumber : www.manajemenqolbu.com
Read more

First

Selamat datang di blog saya,ini adalah postingan pertama saya.Jadi harap maklum ,hehe_

Pertama-tama tak lupa rasa sukur saya sampaikan kepada Tuhan yang maha esa,yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kita masih diberi kesempatan sampai saat ini untuk berkarya.Karena sebagai manusia terkadang kita lupa akan betapa besarnya nikmat yang telah Tuhan berikan,kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi.

Dalam kesempatan ini juga tak lupa saya selaku new bie :) rasa-rasanya masih banyak lagi yang mesti dipelajari dalam dunia blog.Oleh karena itu,mohon pencerahannya kepada blogger-blogger sekalian,mohon bantuannya :)

Mungkin sekian sepatah kata dari saya,mohon maaf bila ada kesalahan,,,,,,,
Read more