Sabtu, 07 November 2015

Kenapa Musik Haram..???

إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه .


{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ }.[ ل عمران : 102 ]
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا }.[ النساء : 1 ]
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا }.[ الأحزاب : 70-71 ]


أما بعد،
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.


Alhamdulillahi robbil ’alamin, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Salam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat nanti.

Kaum muslimin rahimakumullah, jika kita perhatikan setiap pesta-pesta pernikahan, hari ulang tahun, TV sampai HP tidak sepi dari yang namanya musik. Bahkan masjid dan tempat-tempat pengajian ikut diramaikan dengan musik. Karena mereka menganggap apa yang mereka dengar adalah musik Islami.
Tidak heran kalau ada yang berdalil: “Saya mendengarkan musik tidak untuk hanyut dalam alunan lagunya, saya mendengarkan musik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menambah semangat dalam beribadah”.
 
Saudaraku, bagaimana hukum musik itu sebenarnya? Adakah musik Islami ?

Orang yang menghalalkan musik baik itu Islami (menurut anggapan mereka) atau tidak, sama dengan orang yang menghalalkan khomr (minuman keras) dengan dalih untuk pengobatan. Tidak ada bedanya dengan orang yang berkata: “ Saya melihat wajah wanita cantik, bahunya, postur tubuhnya, bukan seperti orang-orang yang fasik. Saya melihatnya untuk merenungi kesempurnaan ciptaan Allah”.
Musik dan nyanyian merupakan hasil perpaduan antara syubhat dan syahwat, keduanya adalah merupakan penyakit hati. Orang yang menghalalkan musik hanyalah mengikuti prasangka yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Sebagaimana Allah berfirman, yang artinyta: “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka yang diinginkan oleh hawa nafsu.” (QS. An Najm: 23).
Selain itu musik dan nyanyian merupakan bentuk penyerupaan dengan orang-orang kafir, yang menjauhkan pecandunya dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, banyak peringatan untuk menjauhinya, baik dari Allah, Rasul-Nya, para Sahabat dan ulama-ulama kita.
Diantaranya:
  • Allah Subahanahu wata‘ala berfirman, yang artinya:“Dan di antara manusia ada orang yang menggunakan perkataan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu.” (QS. Lukman: 6).Perkataan kosong dalam ayat di atas adalah lagu-lagu, sebagaimana penafsiran sahabat Abdullah Inbu Mas’ud. Dan alat-alat musik sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i dalam tafsirnya.
  • Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda yang artinya :Barang siapa menyerupai  suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka.” (HR, Ahmad Dan Abu Dawud).
  • Sahabat Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu berkata: “Nyanyian dapat menumbuhkan bibit kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air dapat menumbuhkan tanaman.”(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
  • Imam kita As-Syafi’i Rahimahullah memperingatkan: “Tidak boleh  diterima persaksiannya (para pecandu musik), karena termasuk permainan yang dibenci dan menyerupai kebatilan. Barang siapa melakukan akan digolongkan sebagai orang idiot (kurang akal) serta jatuh harga dirinya.” (Diriwayatkan Oleh Imam Al-Baihaqi)
Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam menyetarakan munculnya alat-alat musik dan biduwanita dengan tanda-tanda hari kiamat yang lain seperti: tersebarnya zina dan khomr. Sebagaimana beliau mengungkapkan dalam sabdanya:
Akan muncul dari umatku nanti, beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khomr dan alat-alat musik.(HR. Bukhori)
Dalam hadist lain  Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:
“Akan ada sebagian dari umatku yang meminum khomr dan menyebutnya dengan nama yang lain. Mereka didendangkan padanya alat-alat musik dan biduwanita. Allah membenamkan  mereka ke dalam bumi dan mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi.” (HR. Bukhori)
Selanjutnya bagaimana penjelasan hadist Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Salam, ketika beliau menyuruh Abu Bakr Ash Ashidiq untuk membiarkan anak-anak gadis yang menabuh rebana pada hari raya?
Ibnul Qayim Rahimahulloh menjelaskan: “ Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Salam menyetujui ucapan Abu Bakr, bahwa tabuhan rebana itu adalah nyanyian syetan, namun beliau mengecualikan pada hari raya bagi anak-anak gadis tersebut untuk menunjukan kegembiraan dan keceraiaan pada hari itu. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam membolehkan hal itu setiap waktu.
Dari penjelasan di atas beserta dalil-dalilnya, jelaslah bahwasanya musik dan nyanyiannya  itu haram hukumnya dilihat dari beberapa sisi, diantaranya:
1.   Musik dan nyayian merupakan jebakan syetan untuk menjauhkan manusia dari Al-Qur’an
2.   Musik merupakan perpaduan antara syubhat dan syahwat, hasil prasangka dan hawa nafsu tanpa ilmu
3.     Musik merupakan syi’ar orang –orang kafir yang mana kita dilarang untuk menirunya
4.  Munculnya alat-alat musik dan biduwanita disetarakan dangan tanda-tanda hari kiamat lainnya, seperti perzinaan dan khomr
5.  Ancaman Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Salam bagi pelakunya, bahwa Allah akan merubah mereka menjadi kera atau babi
Oleh karena itu, segala bentuk muamalah yang berhubungan dengan musik diharamkan. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:
Tidak dihalalkan mengkomersilkan penyanyi atau membelinya dan memperdagangkannya. Hasil jual beli antara mereka adalah haram.” (HR, Imam Thobroni, dan dishohihkan oleh Albani)
Maka cukuplah Al-Qur’an sebagai penghibur kita, tatkala kita sedih, cukuplah Al-Qur’an sebagai pengingat kita, tatkala kita lupa, cukuplah Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, tatkala kita tersesat. Wallahu A’lam bish Showab. (Abu Zaid)
Maroji:
  • Al Qur’an Al-Karim
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Kifayatul akhyar, karya Imam Taqiyudin Rohimahulloh
  • Noktah-noktah hitam senandung syetan, karya Ibnul Qoyim Al Jauziy Rohimahulloh
Read more

Perjalanan Ruh Setelah Mati


            Telah tersebar di masyarakat kita sebuah keyakinan yang melekat di hati mereka, bahwa ruh orang yang telah meninggal dunia karena mati penasaran bisa gentayangan untuk menakut-nakuti manusia maupun sekedar menengok keluarga yang ditinggalkannya, pada malam Jum’at.
            Benarkah itu adanya?
            Masalah ruh merupakan perkara ghaib, tidak mungkin kita mengetahui dengan pasti, hanya berdasarkan perkataan nenek moyang, melainkan harus dengan dalil yang datangnya dari Yang Maha Mengetahui.
            Alloh Subahanahu wa Ta'ala telah berfirman:
}وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا{
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". [QS. Al-Israa`: 85]
            Oleh Karena itu, untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali kepada petunjuk Al-Qur`an dan As-Sunnah, karena akal kita terbatas tidak mampu mencerna hal semacam ini.
            Itulah hikmah kenapa Alloh merahasiakan masalah ruh; untuk menyadarkan kita akan kelemahan akal kita dari pengetahuan tentang makhluk yang berada dalam diri kita sendiri (ruh kita), apalagi tentang penciptanya, tentu lebih tidak mengetahuinya. Seandainya kita sadar akan hal itu, niscaya kita tidak berlaku sombong dan selalu menimbang baik-buruk suatu perkara dengan syari’at, tidak dengan hawa nafsunya. [Lihat: Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an jilid: 10, hlm. 283]
1. Perjalanan Ruh Orang Mukmin
            Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa: ketika seorang mukmin meninggal, maka turunlah malaikat dengan wajah putih bersinar dengan membawa kain kafan & kamfer dari surga.
            Kemudian, datanglah malaikat maut seraya berkata: “Wahai ruh yang baik keluarlah kamu menuju ampunan Alloh dan keridloan-Nya.” Maka ruh itu pun keluar dari jasadnya sebagaimana menetesnya air yang keluar dari mulut cerek, lalu diletakkan di atas kain kafan dari surga yang menyebarkan bau harum minyak kasturi.
            Para malaikta membawanya naik ke langit dan tidaklah ruh itu melewati seorang malaikat, melainkan malaikat tersebut akan bertanya: “Ruh siapakah yang menyebarkan bau harum ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab: “(Ruh) fulan bin fulan” –mereka menyebutkan nama panggilannya yang baik.
            Sesampai langit ke tujuh mereka berhenti, kemudian Alloh 'Azza wa Jalla berfirman: “Catatlah buku catatan amal hamba-Ku ini di ‘illiyyin’” (yaitu: buku catatan amal shalih orang-orang mukmin).
            Selanjutnya Alloh berfirman: “Kembalikanlah ruh ini ke bumi, karena Aku telah berjanji bahwa darinya Aku menciptakan mereka, padanya Aku mengembalikan mereka dan darinya Aku mengeluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”
            Kemudian ruh itu dikembalikan ke bumi dan dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya dan bertanya padanya: “Siapa Robbmu?” Ia menjawab: “Tuhanku Alloh” Keduanya bertanya: “Apa agamamu?” Ia menjawab: “Agamaku Islam” Keduanya bertanya: “Siapakah laki-laki yang telah diutus di tengah-tengah kamu?” Ia menjawab: “Ia adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam” Keduanya bertanya: “Apa yang telah kamu lakukan?” Ia menjawab: “Aku membaca Kitab Alloh (Al-Qur`an), kemudian aku mengimaninya serta membenarkannya.”
            Lalu dihamparkan baginya permadani di surga, dipakaikan baju dari surga dan dibukakan baginya pintu surga. Maka terciumlah bau harum surga serta diluaskan kuburnya sejauh mata memandang.
            Setelah itu datanglah amal shalihnya dalam bentuk laki-laki rupawan menemaninya dan diperlihatkan baginya kenikmatan-kenikmatan surga, sehingga ia sangat merindukan hari kiamat dan memohon kepada Alloh agar menyegerakan datangnya hari kiamat.
2. Perjalanan Ruh Orang Durhaka/ Kafir
            Ketika orang yang durhaka/ kafir meninggal, turunlah kepadanya para malaikat yang kasar lagi keras dengan wajah hitam pekat dan membawa kain kafan yang kasar dari neraka. Kemudian datanglah malaikat maut berkata padanya: “Wahai ruh yang jelek keluarlah menuju kemurkaan serta kebencian Alloh!”
            Malaikat maut itu memaksa ruh tersebut untuk berpisah dengan jasadnya dan mencabutnya bagaikan mencabut besi tusukan daging yang banyak cabangnya dari bulu domba yang basah, dimana urat-urat sarafnya ikut terputus bersamaan dengan tercabutnya ruh.
            Kemudian ruh tersebut diletakkan di atas kafan dari neraka, lalu dibawa naik (ke langit) dan tersebarlah bau busuk. Setiap kali melewati malaikat mereka bertanya: “Ruh siapakah yang jelek ini?” Setibanya di pintu langit dunia, malaikat penjaganya tidak mau membukakan pintu baginya.
            Setelah itu, ruh tersebut dilemparkan ke dasar bumi hingga menimpa jasadnya. Maka datanglah dua malaikat seraya membentak dan mendudukannya seraya bertanya: “Siapa Rabbmu?” Ruh yang durhaka tadi hanya bisa menjawab: “Hah…hah…aku tidak tahu.” Kedua malaikat bertanya lagi: “Apa agamu?” Ia menjawab: “Hah…hah…aku tidak tahu.” Keduanya bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang diutus di tengah-tengah kamu?” Ia pun tidak ingat sama sekali namanya dan tidak mengetahuinya. Lalu dihamparkan baginya permadani dari neraka dan dibukakan baginya pintu neraka, sehingga ia merasakan panas hembusan api neraka dan angin panasnya. Kemudian kuburnya menghimpitnya, sehingga tulang rusuknya hancur berantakan.
            Setelah itu datanglah amal buruknya dalam rupa manusia yang berwajah buruk, pakaiannya compang-camping dan berbau busuk seraya berkata padanya: “Aku ini adalah amalmu yang jelek. Demi Alloh, aku tidak mengetahuimu selain kamu adalah orang yang selalu melalaikan ketaatan kepada Alloh serta senantiasa bermaksiat kepada-Nya, sehingga Alloh membalasmu dengan kejelekan.”
            Kemudian orang (buruk rupa) tadi berubah menjadi buta, tuli dan bisu, tangannya menggenggam palu godam yang jika gunung dipukul dengannya akan hancur.
            Lalu dipukullah orang durhaka tadi dengan palu godam tersebut sehingga hancur menjadi tanah, iapun menjerit keras sekali yang didengar oleh setiap makhluk kecuali manusia dan jin. Alloh pun mengulang-ulang kejadian tersebut; setelah hancur dikembalikan lagi, setelah hancur dikembalikan lagi. Sehingga orang yang durhaka tadi berkat: “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau melaksanakan kiamat.” [Diringkas dari Riwayat Imam Ahmad: IV/287, hadits shahih]
            Demikianlah perjalanan ruh orang mukmin dan orang durhaka antara bumi dan langit, hingga mereka ditanya oleh kedua malaikat (Munkar dan Nakir).
            Para ulama sepakat, bahwa setelah jenazah dimasukkan ke liang kubur, maka ia akan akan menerima kenikmatan kubur atau adzabnya, dimana hal itu akan dirasakan ruh dan jasadnya.
            Ruh akan tetap merasakan nikmat atau adzab kubur setelah ia berpisah dari jasadnya, serta sekali-kali ia berhubungan dengan jasadnya, sehingga ia bersama jasad merasakan nikmat/ adzab kubur.
            Setelah kiamat terjadi, ruh dikembalikan ke dalam jasad dan bangkit dari kubur mereka untuk menghadap Rabb semesta alam.
* Kebenaran Siksa Kubur dan Neraka
            Siksa kubur dan api neraka merupakan perkara yang nyata dan benar adanya. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah sabda Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berbunyi:
«يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»
Artinya: “Keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar.” Nabi berkata: “Padahal itu dosa besar, dimana salah satu dari keduanya tidak menjaga diri dari air kencing, dan yang lain suka mengadu domba.” [HR. Bukhari: 216]
            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memperingatkan kita agar senantiasa berlindung dari siksa kubur terutama saat tasyahhud akhir sebelum salam:
«إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»
Artinya: “Jika salah seorang di antar kamu telah selesai tasyahhud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Alloh dari empat hal: dari siksa api neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan setelah mati serta dari fitnah Dajjal.” [HR. Muslim: 588]
            Oleh karena itu, kita harus mengetahui sebab-sebab diadzabnya seseorang dalam kubur agar kita segera meninggalkannya, dan sebab-sebab diselamatkan darinya agar kita bisa melakukannya.
1.     Sebab-sebab mendapatkan adzab kubur 
Yaitu: karena melalaikan perintah-Nya dan bermaksiat pada-Nya, seperti: mengadu domba, menggunjing, sombong, memakan harta riba, meninggalkan shalat, zakat maupun puasa, curang ketika menakar, serta kemaksiatan lainnya yang dilakukan oleh hati, mata, telinga, mulut, lidah, perut, kemaluan, tangan, kaki dan badan secara keseluruhan.
2.     Sebab-sebab dilindungi dari adzab kubur
Secara garis besar yaitu dengan menghindari sebab-sebab yang mendatangkan adzab kubur dan memperbanyak melakukan ketaatan kepada Alloh 'Azza wa Jalla, mengikuti sunnah/ petunjuk Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta bartaubat dari segala dosa dan maksiat.
            Akhirnya, semoga Alloh Subahanahu wa Ta'ala menjadikan kuburan kita semua dan kuburan segenap kaum muslimin sebagai sebuah taman dari pertmanan surga dan melindungi kita dari segala fitnah yang mengancam kita. Amiin…[Abu Zaid Al Kebumeny]
Referensi:  - Al-Qur`an Al-Karim
                        - Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an
                        - Shahih Bukhari
                        - Shahih Muslim
                        - Musnad Imam Ahmad
- Perjalanan Ruh Setelah Mati, karya: Khalid bin Abdurrahman asy-Syayi’.
Read more

Pedihnya Siksa Neraka

“PEDIHNYA SIKSA NERAKA”
Perjalan Rasulullah S.A.W ketika isra’ mi’raj
Pada 27 Rajab pada malam hari, tiga orang Malaikat turun ke bumi, mereka adalah Jibril, Mikail, dan seorang malaikat lainnya. Mereka bermaksud mengisra’ mi’rajkan nabi Muhammad S.A.W Mensucikan dan mengisi hatinya dengan hikmat, ilmu, yakin, dan islam. Kemudian beliau dibawa para malaikat itu untuk perjalanan malam hari (isra’) dari masjidil haram (makkah) menuju masjidil aqsha (palestina) beliau mengendarai seekor binatang mirip biqhal yang punya kecepatan bagaikan kilat itu disebut buroq. Disitulah tempat Rasullulah S.A.W Melihat makhluk yang menyeramkan sedang mengejar beliau dengan membawa kayu obor bernyala-nyala dan dengan api itu ia bermaksud hendak membinasakan Rasulullah saw. Dialah Jin Ifrit. Untuk menolak dan menghancurkan Ifrit maka jibril mengajarkan suatu do’a, jarak Ifritpun sudah semakin dekat Rasulullah saw. Segera membaca kalimat do’a, maka jatuh tersungkurlah Ifrit ke atas tanah dan terbakar menjadi abu oleh api obornya sendiri. Rasulullah dan para malaikat mengerjakan sholat dua rekaat, dan beliau bertindak sebagai imam. Selesai sholat, Jibril mengajak Rasulullah untuk melakukan mi’raj, yaitu naik ke langit berlapis tujuh, disanalah
Rasulullah berjumpa dengan ruh para nabi yaitu:
o Nabi Adam AS
o Nabi Idris AS
o Nabi Isa AS
o Nabi Yahya AS
o Nabi Harun AS
o Nabi Yusuf AS
o Nabi Musa AS
o Nabi Ibrahim AS
Setiap bertemu dengan ruh para nabi selalu terjadi salam-salaman di baitul Makmur pada langit ke tujuh Rasulullah S.A.W melakukan sembahyang bersama para malaikat, setelah selesai sholat beliau diajak melihat syurga, di syurga Rasulullah S.A.W menyaksikan berbagai macam kesenangan dan kenikmatan, keindahan dan kedamaian yang tiada bandingnya dengan yang ada di dunia ini sungguh tak tergambarkan oleh angan-angan manusia.
Adapun tingkatan Surga yaitu:
 Firdaus
 Jannatul adn
 Jannatun naim
 Jannatul ma’wa
 Darussalam
 Darul Muqamah
 Al-Muqamul-Amin
Pengertian Neraka
– Neraka adalah tempat berlakunya hukum pengadilan Allah bagi orang-orang yang berdosa dan durhaka kepadanya.
– Neraka adalah tempat balasan yang setimpal sesuai dengan perbuatan atau dosa yang dilakukan manusia selama hidupnya di dunia.
– Neraka puncak dari segala kesengsaraan dan kepedihan, tak ada kesenangan, jauh dari pertolongan, segala macam siksaan yang mengerikan telah tersedia, suara-suara menakutkan, jeritan-jeritan pilu karena kesakitan, ratap penyesalan, bau busuk darah dan nanah menggelegaknya cairan logam yang panas merebusjasad tak berkesudahan.
Adapun tingkatan neraka yaitu:
• Jahanam
• Lazha
• Jahim
• Hutamah
• Saqar
• Sa’ir
• Hawiyah
kemudian Rasulullah diperlihatkan siksaan-siksaan yang ada di neraka, diantaranya:
 Rasulullah S.A.W diperlihatkan seseorang yang dibelenggu kedua tangan dan kakinya, dibenamkan kedalam cairan yang mendidih yang tak terkira panasnya. Mereka menjerit-jerit kesakitan, setelah dibenamkan mereka ditarik lagi ke atas kali ini di tuangkan cairan logam mendidih dan membara kedalam mulut mereka. Itulah siksaan bagi orang-orang yang tak percaya adanya Tuhan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:“Sesungguhnya, tebal kulit seorang kafir (di neraka) ialah 42 hasta ukuran orang kuat yang besar. Giginya sebesar gunung Uhud, dan sungguh tempat duduknya dia di Jahannam seluas Makkah dan Madinah.” (HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim. Lihat Shahihul Jami’ no. 2110) Namun, karena dahsyatnya neraka, kulit tersebut matang ketika terbakar. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 56)
 Kemudian Rasulullah diperlihatkan orang-orang yang meninggalkan sholat ketika hidup di dunia, mereka mendapatkan balasan tubi menimpa kepala mereka sampai hancur. Kepala itu tumbuh lagi dan dipukul lagi, begitulah seterusnya. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5). Para ulama menerangkan bahwa yang dimaksud “lalai” dalam ayat di atas mencakup tiga bentuk perbuatan, yaitu:
 Menunda-nunda shalat hingga baru dikerjakan ketika waktu shalat hampir berakhir.
 Mengerjakan shalat tanpa memperhatikan syarat dan rukunnya sebagaimana yang diperintahkan.
 Mengerjakan shalat tanpa disertai kekhusyukan dan tanpa merenungi makna bacaan shalat. Adapun siksa kubur, yang akan dialami oleh orang yang lalai dalam shalatnya, disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Samurah bin Jundab. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat siksa bagi orang yang lalai dalam shalatnya, yaitu kepalanya akan dipecahkan dengan sebuah batu besar dan hal itu dilakukan berulang kali. (HR. Bukhari)
 Ditunjukkan pula balasan bagi orang-orang yang sengaja meninggalkan puasa di bulan ramadhan,Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang digantung dalam keadaan kaki di atas dan mulut mereka robek-robek. Darah mengalir dari mulut mereka. Aku berkata, ‘Mereka adalah orang yang berbuka di bulan puasa sebelum dihalalkan berbuka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no 3951, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)
 Lalu diperlihatkan orang-orang yang perutnya mengembung besar melebihi perutnya, dari mulutnya keluar cairan nanah yang berbau sangat busuk, sedangkan sekujur tubuhnya dirayapi berbagai macam binatang berbisa yang tiada henti-hentinya menggigit dan menyengat sambil mengeluarkan bisa. Itulah siksaan bagi orang-orang yang suka berjudi, mabuk-mabukan dengan minuman keras sehingga lenyap akal pikiran mereka, memakan makanan haram pada waktu hidup di dunia. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Ada tiga macam manusia yang tidak masuk surga, peminum khamr, pemutus silaturahim, dan orang yang mempercayai sihir. Barangsiapa mati sebagai peminum khamr, maka Allah memberinya minum dari sungai Ghuthah. Seseorang bertanya, ‘Apa itu sungai Ghuthah?’ Rasul menjawab, ‘Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacur. Para penghuni neraka lainnya merasa terganggu oleh bau kemaluan mereka’.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 4/399) “Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Al Maaidah: 90)
 Kemudian bagi orang-orang yang suka memfitnah sehingga mencelakakan orang lain, maka lidah dan bibirnya dipotong-potong. Lidah dan bibirnya yang putus itu segera tumbuh lagi, lalu dipotong lagi hingga seterusnya.
 Di tunjukkan lagi orang-orang yang mencakari dan menggaruk badanya sendiri dengan kuku yang panjang dan tajam, dan mengucurkan darah. Itulah siksaan bagi orang-orang yang bertengkar sesama muslim.,
 Ada juga dua orang sedang berkelahi mati-matian dikelilingi binatang raksasa, mereka itu adalah orang-orang yang semasa hidupnya suka berjudi dan mengadu binatang seperti ayam, jangkrik, kambing, kuda dan lain-lain.
 Ada sekelompok orang yang menghadapi daging segar tapi mereka lebih suka memakan daging yang amat busuk dari pada daging segar, itulah siksaan bagi pelaku zina, mereka berbuat serong padahal mereka mempunyai istri atau suami yang sah. Masih hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran (comberan). Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no 3951, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad) “Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu”.(Al Furqaan: 68-69)
 Dan ada pula yang berenang di genangan darah dan nanah yang panas, mereka di hujani batu-batu neraka yang panas membara hingga kepala mereka hancur, itulah siksa bagi orang yang semasa hidupnya di duniasuka memakan riba atau membungakan uang berlipat-lipat.
 Lalu di tempat lain terlihat orang-orang yang ditusuk mulutnya, telinganya,hidungnya. Itulah siksaan bagi orang yang mempergunakan mulut telinga, mata dan hidungnya untuk berbuat dosa dan maksiat, dulu mulutnya digunakan untuk mengumpat, berdusta, bergunjing, dan berkata kotor, telinga, mata dan hidung digunakan untuk berbuat maksiat dan dilarang agama. Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Akan didatangkan seseorang kemudian dia dicampakkan ke neraka. Maka dia di sana berputar seperti berputarnya keledai di tempat penggilingannya, hingga para penduduk neraka berkumpul mengelilinginya. Mereka berkata kepadanya: “Wahai fulan, bukankah engkau dulu di dunia yang menyuruh kami kepada yang baik dan melarang kami dari yang mungkar?” Usamah berkata, dia menjawab: “Aku dulu menyuruh kalian kepada yang baik (tapi) aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari yang jelek, (tapi) aku melakukannya.” (Shahihul Jami’) Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Pada malam Isra’ aku dibawa kepada beberapa kaum yang lidah mereka dipotong dengan gunting api. Setiap kali selesai dipotong, lidah itu kembali lagi. Aku berkata: “Siapa mereka itu, wahai Jibril?” Jibril berkata: “Mereka adalah para penceramah dari kalangan umatmu yang mereka mengucapkan apa yang tidak mereka lakukan dan mereka membaca Kitabullah, tapi tidak mengamalkannya.” (Shahihul Jami’: 128)
 Terhadap orang yang mendustakan ayat seperti Al Qur’an, mereka akan ditimpa kehinaan dan siksa yang keras: “Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” [Al An’aam 124]
 Orang-orang yang mengabaikan ajaran dan perintah agama serta tidak yakin dengan adanya Tuhan, maka kepala mereka disiram dengan cairan timah panas, tentu saja mereka melolong kesakitan terkelupas kulit dan daging dibagian kepala mereka.
 Siksaan bagi koruptor, pemeras, perampok, dan pencuri tanganya yang dipotong utuh lagi, namun segera di potong lagi.
 Dan bagi para pelacur, gigolo (pelacur laki-laki), wanita yang suka menggugurkan kandungan karena hubungan gelap dan para pengusaha rumah pelacur, digantung dan dibenamkan ke dasar neraka.
 Sedangkan bagi para pelaku homo seksual dan lesbian, pantatnya ditusuk dengan besi menyala dan dipanggang diatas api neraka yang menjilat-jilat.
 Ada juga orang-orang yang berlari pontang-panting karena diberi pakaian dari api yang membakar tubuh mereka sendiri, siksaan ini ditambah dengan pukulan cabuk terbuat dari besi panas yang bergigi tajam, itulah siksaan bagi mereka yang berdurhaka kepada kedua orang tuanya meskipun mereka beriman kepada Allah. Mereka akan disiksa terus selama belum mendapat ampunan dari kedua orangtuanya. Karena,Allah swr menyifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy ‘orang yang sombong lagi celaka’. Tentang hal ini Allah swt berfirrnan, “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. ‘(Maryam: 32)”
 Bahkan ada juga orang yang kikir, serakah, sering makan harta anak yatim piatu mereka disetrika dengan besi panas hingga punggung mereka hancur luluh sekejap kemudian punggung mereka pulih lagi lalu disetrika lagi, dan lain sebagainya. “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (An Nisaa: 10)
 Tidak ada setitik dosa pun yang terhindar dari hukuman Tuhan, maka selagi hidup di dunia seorang harus melangkah dijalankan yang benar, yaitu jalan agama yang diridhoi Allah.

by: HENY INDRIASTUTI RIZA FAUZI
Read more